Jakarta – Perempuan Mahardika mengajak seluruh elemen pemuda dan mahasiswa untuk terus menjaga tradisi intelektual dalam menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan publik. Sikap kritis merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi yang harus dipelihara, namun penyampaiannya perlu dilakukan secara bertanggung jawab, terukur, dan mengedepankan etika agar substansi tuntutan dapat diterima oleh masyarakat maupun para pemangku kepentingan.
Menurut Perempuan Mahardika, ruang demokrasi harus dimanfaatkan untuk membangun kesadaran publik melalui argumentasi yang kuat, kajian yang mendalam, diskusi, advokasi, serta penyampaian aspirasi secara damai. Kritik yang berbasis data dan solusi akan memiliki daya dorong yang lebih besar dalam memengaruhi arah kebijakan dibandingkan tindakan yang justru menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Perempuan Mahardika juga mengingatkan agar pemuda dan mahasiswa tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang berupaya menggeser tujuan perjuangan menjadi tindakan anarkis. Perusakan fasilitas umum, bentrokan, maupun tindakan yang mengarah pada kekerasan hanya akan mengaburkan substansi isu yang sedang diperjuangkan dan berpotensi mengurangi simpati masyarakat terhadap tuntutan yang sebenarnya memiliki nilai strategis.
“Gerakan mahasiswa dan pemuda memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan moral yang mampu menghadirkan perubahan melalui keberanian, kecerdasan, dan integritas. Oleh karena itu, karakter tersebut harus tetap dipertahankan dengan mengedepankan cara-cara yang elegan, bermartabat, dan sesuai dengan prinsip demokrasi,” demikian disampaikan dalam pernyataan Perempuan Mahardika.
Perempuan Mahardika menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah aksi bukanlah seberapa besar keramaian atau kerusakan yang ditimbulkan, melainkan sejauh mana aksi tersebut mampu mendorong lahirnya perubahan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat. Gerakan yang berhasil adalah gerakan yang menghasilkan dialog, perbaikan, dan solusi, bukan meninggalkan konflik serta
persoalan baru yang justru menghambat perjuangan itu sendiri.
Karena itu, Perempuan Mahardika mengajak seluruh elemen pemuda dan mahasiswa untuk tetap menjadi garda terdepan dalam mengawal demokrasi dengan menjaga idealisme, memperkuat solidaritas, serta mengedepankan perjuangan yang damai, cerdas, dan konstruktif. Dengan demikian, setiap kritik yang disampaikan tidak hanya menjadi bentuk kontrol sosial, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam mendorong lahirnya kebijakan yang lebih adil, responsif, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.





