Oleh: Hikmat Subiadinata
Malam itu listrik baru saja menyala kembali. Kusno dan adiknya, Karno, duduk di teras rumah sambil memandang jalan desa yang mulai sepi.
Karno:
“Kang, kenapa ya sekarang rasanya jurang antara yang kaya dan miskin makin jauh? Rakyat bekerja lebih keras, tapi hidup terasa makin berat.”
Kusno menarik napas panjang.
Kusno:
“No, ada satu hal yang harus kita pahami. Kesenjangan yang semakin menganga bukan semata-mata kesalahan rakyat.”
“Petani tidak malas. Nelayan tidak malas. Buruh tidak malas. Guru tidak malas. UMKM juga tidak malas. Mereka bekerja setiap hari.”
“Kalau begitu banyak orang bekerja keras tetapi kesejahteraan tidak ikut naik, kita harus berani bertanya: ada apa dengan cara negara dikelola?”
Karno:
“Jadi masalahnya di penguasa?”
Kusno:
“Bukan sekadar siapa penguasanya. Persoalannya adalah bagaimana kekuasaan itu dijalankan.”
“Aristoteles pernah mengingatkan bahwa tujuan negara adalah menciptakan kebaikan bersama, bukan kebaikan segelintir orang. Kekuasaan yang melupakan tujuan itu lambat laun akan kehilangan maknanya.”
“Kekuasaan itu seperti pisau. Di tangan orang bijak bisa dipakai memasak untuk banyak orang. Tetapi di tangan yang tergesa-gesa, pisau yang sama bisa melukai banyak orang.”
Karno:
“Maksud Kang tergesa-gesa?”
Kusno:
“Keinginan besar tidak selalu salah. Cita-cita besar juga tidak salah. Tetapi keinginan yang lebih besar daripada kemampuan, tanpa kajian yang matang, tanpa mendengar ahli, tanpa menghitung dampaknya, sering kali membuat rakyat menjadi pihak yang membayar kesalahannya.”
“Negara tidak boleh dikelola dengan semangat ‘pokoknya jalan’.”
“Karena setiap keputusan negara menyangkut uang rakyat, nasib rakyat, dan masa depan anak cucu rakyat.”
Karno terdiam.
“Kajian memang sepenting itu?”
Kusno:
“Sangat penting.”
“Ibn Khaldun sudah menjelaskan lebih dari enam abad lalu: ketika penguasa terlalu banyak membuat kebijakan tanpa memahami kemampuan rakyat, maka produktivitas akan turun, kepercayaan akan hilang, dan pada akhirnya negara sendiri yang melemah.”
“Ilmu pengetahuan bukan penghambat pembangunan. Ilmu pengetahuan adalah rem agar pembangunan tidak masuk jurang.”
Karno:
“Tapi rakyat sering dianggap tidak mengerti.”
Kusno tersenyum kecil.
Kusno:
“Justru rakyat sering paling cepat merasakan dampak kebijakan.”
“Kalau harga pangan naik, rakyat tahu.”
“Kalau lapangan kerja sulit, rakyat tahu.”
“Kalau pendidikan makin mahal, rakyat tahu.”
“Kalau pelayanan kesehatan memburuk, rakyat tahu.”
“Mungkin rakyat tidak memakai istilah ekonomi yang rumit. Tetapi rakyat merasakan kenyataan setiap hari.”
Karno:
“Berarti pertumbuhan ekonomi belum tentu menunjukkan keadaan sebenarnya?”
Kusno:
“Betul.”
“Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi, mengatakan bahwa pembangunan sejati adalah memperluas kemampuan manusia untuk hidup lebih baik.”
“Kalau ekonomi tumbuh tetapi rakyat sulit sekolah, sulit berobat, sulit bekerja, dan sulit memiliki harapan hidup yang lebih baik, maka kita perlu bertanya: pertumbuhan itu dinikmati oleh siapa?”
Karno menundukkan kepala.
“Jadi apa yang seharusnya dilakukan pemimpin?”
Kusno:
“Pemimpin harus berani mendengar.”
“Mendengar ahli.”
“Mendengar data.”
“Mendengar kritik.”
“Mendengar rakyat.”
“Karena kritik yang jujur bukan ancaman bagi negara. Kritik adalah alarm agar negara tidak salah arah.”
“Pemimpin yang kuat bukan pemimpin yang anti kritik. Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang cukup berani untuk memperbaiki diri.”
Karno:
“Kalau tidak begitu?”
Kusno memandang langit yang gelap.
Kusno:
“Sejarah menunjukkan, banyak bangsa tidak runtuh karena kekurangan sumber daya.”
“Mereka runtuh karena keserakahan mengalahkan kebijaksanaan.”
“Mereka runtuh karena ambisi mengalahkan ilmu.”
“Mereka runtuh karena kekuasaan berhenti mendengar rakyat.”
“Lalu kesenjangan tumbuh.”
“Ketidakadilan tumbuh.”
“Kepercayaan rakyat hilang.”
“Dan ketika kepercayaan rakyat hilang, sesungguhnya fondasi negara mulai retak.”
Karno:
“Lalu harapan kita apa, Kang?”
Kusno tersenyum.
Kusno:
“Harapan selalu ada.”
“Selama rakyat masih peduli.”
“Selama masih ada orang-orang yang berani mengatakan kebenaran.”
“Selama ilmu pengetahuan masih dihormati.”
“Dan selama kekuasaan masih mau kembali mengingat bahwa jabatan hanyalah amanah.”
“Karena negara ini didirikan bukan untuk membesarkan penguasa.”
“Negara ini didirikan untuk melindungi seluruh rakyat dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
“Itulah tujuan yang tidak boleh dilupakan, siapa pun yang sedang memegang kekuasaan.”





