Komputasi Ideologi: Membaca HTI di Era AI

oleh -0 Dilihat
Ilustrasi Hti
Ilustrasi Hti

Oleh: Ayik Heriansyah

Saya pernah ditanya, apakah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memiliki AI atau aplikasi digital sendiri? Kalau aplikasi kemungkinan besar ya. Aplikasi untuk kebutuhan internal. Pengembangan dari webmail internal (2010). Webmail sendiri pengembangan dari email bersama (2000).

Bagaimana dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) apakah HTI punya model AI sendiri seperti ChatGPT dan Gemini? atau memiliki large language model (LLM) yang dibangun secara mandiri?

HTI memang mempunyai SDM-SDM yang expert untuk mengembangkan AI sendiri. Mereka lulusan UI, ITB, Monash University, Curtin University, NTU Singapura, dll. Hanya saja pengembangan AI membutuhkan dana yang besar. Sepertinya HTI tidak punya anggaran untuk itu. Hingga saat ini pun belum ada bukti publik yang dapat diverifikasi bahwa HTI memiliki AI sendiri.

Kendati belum memiliki AI sendiri, dalam konteks keamanan digital, perhatian kita lebih relevan diarahkan pada bagaimana teknologi AI dimanfaatkan untuk memperkuat penyebaran ideologi mereka. Mengingat aktivis HTI termasuk kelompok yang memiliki literasi lumayan tinggi terhadap perkembangan sains dan teknologi. Khususnya teknologi informasi yang sangat berguna mengeksponensialkan narasi-narasi mereka sehingga menjadi opini umum.

Pada akhir 2023, akademisi yang berafiliasi ke HTI dari beberapa perguruan tinggi berkolaborasi menerbitkan buku “ChatGPT untuk Pendidikan: Literasi Artificial Intelligence untuk Guru dan Dosen”. Buku tersebut membahas pemanfaatan AI dalam pendidikan, politik, linguistik, prompt engineering, hingga pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi mainan baru HTI di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi.

Untuk memahami fakta ini, dapat melalui konsep komputasi ideologi. Komputasi ideologi, yaitu proses digitalisasi penyebaran, reproduksi, adaptasi, dan mobilisasi ideologi melalui teknologi komputasi seperti AI, algoritma media sosial, big data, dan otomatisasi komunikasi digital. Konsep ini berangkat dari teori computational propaganda yang diperkenalkan Samuel C. Woolley dan Philip N. Howard, yaitu penggunaan algoritma, otomatisasi, dan analisis data untuk memengaruhi opini publik dalam skala besar melalui media digital. (Samuel C. Woolley & Philip N. Howard, Computational Propaganda: Political Parties, Politicians, and Political Manipulation on Social Media, 2018).

Perkembangan AI membuat produksi konten ideologis semakin mudah, murah, dan cepat. Artikel, poster, video, ilustrasi, hingga terjemahan dokumen dapat dihasilkan dalam hitungan menit melalui berbagai layanan AI komersial. Perubahan tersebut menggeser pola propaganda dari aktivitas yang bergantung pada banyak tenaga manusia menjadi proses yang semakin terdigitalisasi dan terotomatisasi.

Komputasi ideologi menunjukkan bahwa kekuatan HTI pada era AI dilihat dari kemampuan memproduksi konten secara masif, memahami algoritma media sosial, membaca perilaku audiens, serta mengelola distribusi informasi. Komputasi ideologi juga mencakup digitalisasi kaderisasi, rekrutmen, mobilisasi, pembentukan jejaring, hingga pengelolaan pengaruh di ruang siber.

AI berfungsi sebagai akselerator yang meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan jangkauan seluruh proses tersebut. Pertarungan ideologi tidak lagi hanya berlangsung melalui ceramah, buku, dan media sosial, tetapi juga melalui mesin rekomendasi, platform digital, dan sistem berbasis algoritma.

Karena itu, fokus kajian keamanan perlu dikembangkan dari pertanyaan apakah HTI memiliki AI sendiri menjadi bagaimana AI dimanfaatkan untuk membangun pengaruh, membentuk persepsi publik, dan menyebarkan ideologinya?

Respons yang diperlukan tidak cukup berupa patroli siber. Pemerintah dan masyarakat juga perlu memperkuat literasi digital, meningkatkan kapasitas analisis media sosial, mengembangkan kontra-narasi berbasis data, serta membangun ekosistem AI yang mendukung ketahanan ideologi bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.