Serang, 11 Juni 2026 – Koordinator BEM Banten Bersatu, Bagas Yulianto, menegaskan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab untuk terus mengawal jalannya pemerintahan melalui partisipasi aktif, termasuk dengan menyampaikan kritik yang konstruktif terhadap berbagai kebijakan publik.
Menurut Bagas, mencintai Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui dukungan terhadap program-program yang baik, tetapi juga melalui keberanian untuk menyuarakan aspirasi ketika terdapat kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada kepentingan rakyat.
“Sebagai generasi muda, saya percaya bahwa mencintai Indonesia bukan hanya tentang memuji, tetapi juga tentang peduli. Peduli berarti berani menyampaikan kritik ketika melihat kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat,” ujar Bagas dalam keterangannya.
Ia menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah tidak boleh dipandang sebagai bentuk provokasi atau sikap anti terhadap negara. Dalam sistem demokrasi, kritik merupakan bagian dari hak sekaligus tanggung jawab warga negara untuk mengawasi jalannya pemerintahan agar tetap berjalan sesuai dengan amanat rakyat.
“Kritik kepada pemerintah bukanlah provokasi. Kritik adalah bagian dari tanggung jawab warga negara untuk mengingatkan, mengawasi, dan memastikan bahwa kekuasaan tetap berjalan sesuai dengan amanat rakyat. Jangan samakan suara kritis dengan kebencian terhadap bangsa,” tegasnya.
Bagas juga menekankan bahwa kecintaannya terhadap Indonesia tidak pernah berkurang meskipun ia kerap menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan yang terjadi. Baginya, sikap kritis justru lahir dari rasa kepedulian dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
“Saya tetap mencintai Indonesia dalam kondisi apa pun. Justru karena cinta itulah saya memilih untuk tidak diam ketika melihat ketidakadilan, ketimpangan, atau kebijakan yang menjauh dari kepentingan masyarakat. Diam bukan selalu tanda kesetiaan, terkadang bersuara adalah bentuk cinta yang paling nyata,” katanya.
Lebih lanjut, Bagas mengingatkan bahwa pemerintah dan negara merupakan dua hal yang berbeda. Menurutnya, pergantian pemerintahan adalah bagian dari proses demokrasi, sementara Indonesia adalah rumah bersama yang harus terus dijaga oleh seluruh elemen bangsa.
“Pemerintah dan Indonesia adalah dua hal yang berbeda. Pemerintah dapat berganti, kebijakan dapat berubah, tetapi Indonesia adalah rumah yang harus terus dijaga. Karena itu, saya akan terus mendukung setiap kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan mengkritik setiap kebijakan yang merugikan rakyat,” ujarnya.
Sebagai representasi generasi muda, Bagas mengajak mahasiswa dan pemuda untuk tidak apatis terhadap berbagai persoalan kebangsaan. Ia menilai bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam memastikan arah pembangunan nasional tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai keadilan, demokrasi, dan kesejahteraan masyarakat.
“Menjadi generasi muda bukan hanya tentang menikmati hasil perjuangan bangsa, tetapi juga memastikan arah perjalanan bangsa tetap berada di jalur yang benar. Kritik yang lahir dari kepedulian adalah bagian dari demokrasi, bukan ancaman bagi negara,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Bagas menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan aspirasi masyarakat sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
“Saya tetap mencintai Indonesia. Saya tetap akan bersuara. Karena cinta yang sejati tidak memilih untuk diam ketika melihat bangsanya membutuhkan perubahan,” tutup Bagas Yulianto.






