Keamanan Siber Jadi Sorotan, Teguh Aprianto Ingatkan Bahaya Data Tak Terverifikasi

oleh -0 Dilihat
Teguh Aprianto
Teguh Aprianto

Jakarta – Perkembangan ancaman siber yang semakin kompleks menjadi perhatian berbagai kalangan. Dalam sebuah kegiatan diskusi yang menghadirkan Cyber Security Consultant Teguh Aprianto sebagai narasumber, dibahas sejumlah tren ancaman siber terkini serta tantangan yang dihadapi organisasi di era transformasi digital.

Dalam paparannya, Teguh Aprianto mengangkat tema “Cyber Threat Intelligence sebagai Pilar Transformasi Digital dalam Menghadapi Ancaman Siber Generasi Baru”. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah menghadirkan berbagai bentuk ancaman baru yang semakin sulit dideteksi dan terus mengalami evolusi.

Beberapa isu yang menjadi fokus pembahasan antara lain fenomena false positive dalam sistem deteksi ancaman siber, perkembangan berbagai jenis serangan siber, pemanfaatan dan risiko kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), ransomware, malware pencuri data (stealers), phishing, insider threat, supply chain attack, serta pentingnya pemeriksaan dan pemantauan data secara berkelanjutan.

Menurut Teguh, false positive atau alarm palsu merupakan kondisi ketika sistem mendeteksi adanya ancaman yang sebenarnya tidak ada. Kondisi tersebut dapat berdampak pada proses analisis maupun pengambilan keputusan apabila tidak disertai verifikasi dan validasi yang memadai.

Ia juga menyoroti pentingnya kualitas informasi dalam proses pengambilan keputusan dengan mengangkat contoh kasus Perang Irak tahun 2003 yang hingga kini masih menjadi salah satu referensi dalam kajian intelijen dan pengelolaan informasi. Kasus tersebut menunjukkan bagaimana informasi yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat besar, baik dari sisi kemanusiaan maupun ekonomi.

Selain itu, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) turut menjadi perhatian. Teguh menjelaskan bahwa AI tidak hanya dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan manusia, tetapi juga mulai digunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk mengembangkan alat serangan, menjalankan serangan otomatis, hingga menyasar target tertentu secara lebih spesifik dan terukur.

Ancaman lain yang dibahas adalah ransomware yang mampu mengganggu operasional organisasi, malware pencuri data yang menyasar informasi sensitif pengguna, serta ancaman dari orang dalam (insider threat) yang dapat muncul baik karena kelalaian maupun tindakan yang disengaja.

Pada kesempatan tersebut, Teguh juga menjelaskan mengenai supply chain attack, yakni metode serangan yang dilakukan melalui pihak ketiga atau rantai pasok teknologi sehingga pelaku tidak perlu menyerang target utama secara langsung.

Menutup paparannya, Teguh mengingatkan pentingnya kesadaran keamanan siber, penguatan pengelolaan data, serta peningkatan kemampuan deteksi dan mitigasi risiko guna menghadapi berbagai ancaman digital yang terus berkembang di masa mendatang.