Eksistensi Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Papua dalam Pembangunan SDM Papua

oleh -0 Dilihat
Arie Waropen Ketua Umum Sgm Papua
Arie Waropen Ketua Umum Sgm Papua

Oleh : Arie Waropen (Ketua Umum SGM-Papua)

Pendahuluan
Karya analisis atau uraian analisis tentang “Eksistensi Gerakkan Mahasiswa dan Pemuda Papua Dalam Pembangunan SDM Papua” ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan gambaran saat ini tentang seperti apa dan atau bagaimana kesiapan Generasi Muda (SDM Orang Asli Papua) hari ini untuk kedepannya. Yang mana sebagai bagian integral dari transformasi pembangunan dan kemajuan INDONESIA secara utuh sebagai Satu Kesatuan. Fokus utama uraian analisis ini adalah pada eksistensi gerakkan Mahasiswa dan Pemuda Papua dalam pembangunan SDM muda Papua (OAP). Pembangunan pemuda menjadi program penting bagi seluruh negara di dunia, karena pemuda merupakan aset terbesar bangsa sekaligus tumpuan harapan yang akan menegakkan kembali cita-cita bangsa, selain itu pemuda juga merupakan bagian dari roda perputaran zaman yang diharapkan kembali dapat menjadi agent of change (Dewanata dan Syaifullah, 2008: 46).

Peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa adalah elemen vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat ini, di tengah – tengah perubahan informasi dan teknologi yang begitu pesat, peran pemuda menjadi semakin krusial dalam menciptakan inovasi yang mampu mentransformasi tatanan sosial, ekonomi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Diskursus untuk mendorong inovasi dan transformasi ini sejalan dengan visi Indonesia Emas. Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional 2025 – 2045 (RPJN) bertujuan untuk membangun Indonesia Emas 2045 yang merupakan cita – cita bangsa Indonesia yang tercermin dalam RPJN 2025 – 2045. Akan tetapi, Indonesia perlu mempersiapkan sumber daya manusianya melihat bonus demografi yang sangat banyak. Oleh karena itu, perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai upaya mewujudkan generasi emas 2045 (Yeremias Arif Agung, 2025).

Mengapa uraian analisis dengan topik pembahasan ini menjadi sangat penting? Agar secara khusus bagi masyarakat Papua, memiliki tambahan referensi untuk memperkaya cara pandang yang multidimensional dalam mengevaluasi dan membangun SDM OAP lewat eksistensi gerakkan Mahasiswa dan Pemuda Papua. Kemudian secara umum, agar pemerintah/negara memiliki tambahan referensi dari sudut pandang ilmiah yang cukup untuk memahami konteks persoalan Generasi Muda Papua, untuk dapat menjadi rujukan dalam mendesain kebijakan – kebijakan strategis dalam rangka pelayanan pembangunan kemanusiaan, terkhusus Generasi Muda bangsa menuju INDONESIA EMAS 2045.

Deskripsi Okjek
Berbicara soal eksistensi gerakkan Mahasiswa dan Pemuda Papua dalam rangka pembangunan SDM muda Papua, tentu kita perlu tahu selama ini berapa banyak kelompok mahasiswa atau pemuda Papua yang benar – benar dibentuk (dibina) atau didukung secara konkret oleh pemerintah daerah/pemerintah pusat (negara). Pada konteks ini untuk memudahkan dalam menarik garis evaluasi sebagai bahan analisis, saya memberi batasan menyoroti kejadian/peristiwa yang berlangsung pada era Otonomi Khsusu Papua dilahirkan yaitu mulai pada tahun 2001. Era di mana kebijakan desentralisasi/afirmasi diberikan oleh negara kepada (orang Papua) pemerintah daerah Papua untuk mengatur urusan daerah di wilayahnya masing – masing (Undang – Undang No. 2 Tahun 2021 Tentang Otonomi Khusus Papua).

Menurut beberapa literatur yang diperoleh, sejak saat era Otonomi Khusus Papua bergulir hingga kini beberapa organisasi pemuda/mahasiswa yang telah ada, baik terbentuk secara inisiatif kolektif kelompok masyarakat (pemuda/mahasiswa) berdasarkan kebutuhan dan juga ada yang dibentuk oleh pemerintah negara sbb.

I. Beberapa contoh organisasi Pemuda/Mahasiswa Papua yang terbentuk karena kebutuhan situasi dan kondisi secara inisiatif kolektif oleh Generasi Muda Papua (sebut saja kelompok kiri) antara lain :
• IPMAPA (1980)
Berorientasi dalam memperkenalkan akulturasi budaya kota studi serta menjaga solidaritas kekeluargaan antar pelajar/mahasiswa Papua di kota – kota studi di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Silawesi dan Papua.
• Aliansi Mahasiswa Papua (1998)
Berorientasi dan kerap sukses menyuarakan isu – isu krusial tentang pelangggaran HAM di Papua, Diskriminasi Ras, Ketidakadilan Sosial, dan Militerisme yang berlangsung di Tanah Papua, serta isu penentuan nasip sendiri bagi orang/bangsa Papua.
• DAP Unsur Pemuda (baru saja 2025)
Berorientasi kedepan harapannya sebagai pelopor perubahan, penjaga tanah adat dan pelestarian sumber daya alam Papua.

II. Beberapa contoh organisasi Pemuda (Papua) yang dibentuk pemerintah (sebut saja kelompok kanan) antara lain :
• KNPI (1973)
• Papua Youth Creative Hub (2015)
Berorientasi selama ini melatih kesiapan generasi muda Papua dalam dunia kewirausahaan dan pemberdayaan. Langkah gerak ini terkesan berhasil di beberapa daerah perkotaan di Papua. Namun mendapat kritikan keras dari beberapa kalangan generasi muda Papua, karena dianggap hanya menyasar kelompok elit pemuda Papua dan bukan kelompok masyarakat bawah yang rentan terhadap persoalan (SDM). Jika melihat pada orientasi ruang gerak eksistensi masing – masing dari organisasi Pemuda (Papua) di atas dan bila dikombinasikan dengan adanya kewenangan Otonomi Khusus yang seharusnya sangat leluasa, maka sudah sepantasnya saat ini Papua bukan lagi dikategorikan sebagai daerah tertinggal. Karena kesigapan generasi muda dengan kesadaran yang kuat telah berpartisipasi dalam pembangunan Papua di ruang masing – masing.

Isi (Pembahasan Analisis)
Pembangunan masyarakat menurut Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) adalah suatu proses melaui usaha dan prakarsa masyarakat sendiri maupun kegiatan pemerintahan dalam rangka memperbaiki kondisi ekonomi, sosial, dan budaya. Berdasarkan defenisi yang dikeluarkan oleh PBB tersebut setidaknya ada dua peran pemuda dalam kaitannya dengan upaya pembagunan masyarakat. Yang pertama, pemuda sebagai pemrakarsa dari sekelompok masyarakat untuk bersama – sama dengan mereka melakukan upaya memperbaiki kondisi didalam masyarakat itu sendiri. Sedangkan yang kedua, pemuda bertindak sebagai fasilitator dari program – program yang digulirkan pemerintah dalam hal pembangunan
masyarakat.

Pada konteks persoalan eksistensi gerakkan Mahasiswa dan Pemuda (Papua) dalam pembangunan SDM Papua, dapat diihat dalam 2 sudut pandang yang berbeda namun berasal dari akar yang sama. Sebagai contoh konkret yang dikaji di sini yaitu Eksistensi pergerakkan AMP (Aliansi Mahasiswa Papua) sebagai kelompok kiri dan kolektif kelompok muda Papua lainnya di luar AMP sebagai kelompok kanan yang berorientasi membangun SDM muda Papua (formal/non formal) dengan carannya masing – masing. Di satu sisi pergerakkan AMP sebagai suara kritis dan politik, di sisi yang lain ada berbagai kelompok kolektif pemuda Papua lainnya bergerak terkait kesiapan SDM muda Papua secara pendidikan, keterampilan, dan penyerapan tenaga kerja. Keduanya ini beririsan pada satu titik, yaitu identitas, keadilan, dan masa depan generasi muda Papua.

Gerakkan AMP (Kelompok Kiri)
Aliansi Mahasiswa Papua selalu muncul sebagai suara kolektif terorganisir di berbagai kota studi di Indonesia. Seperti yang marak diberitakan di berbagai platform media online, AMP juga gencar menyuarakan isu – isu krusial seperti kebebasan berpendapat, pelanggaran HAM, penolakan militerisme, kegagalan pembangunan di Papua serta evaluasi Otonomi Khusus. Saat ini AMP tidak hanya bereaksi terhadap insiden tetapi mulai menyusun narasi alternatif dengan menilai pembangunan pemerintah (PSN dan Infrastruktur) yang diiringi pengungsian warga akibat kerusakan lingkungan dan militerisme. Tetapi yang menjadi kekurangan adalah, membangun kapasitas diri (skill/SDM) tidak boleh sampai tertukar dengan menghabiskan waktu mengkritik dalam situasi politik yang tidak pasti. Kritik juga harus yang konstruktif, agar persoalan Papua (SDM) bisa teratasi.

Gerakkan Kelompok Kolektif Muda Papua Lainnya Non AMP (Kelompok Kanan)
Di sisi yang lain, kolektif pemuda Papua lainnya di luar APM sebut saja sebagai kelompok kanan, sejauh ini terus mendorong program kerja pembinaan/pemberdayaan generasi muda dan juga mendorong ruang beasiswa bagi generasi muda Papua dalam tujuan peningkatan SDM Papua kedepan. Bila dilihat dengan adanya pemekaran empat wilayah administrasi/daerah otonomi baru Papua (2022) menjadi total enam provinsi, memang ada peningkatan kesadaran berpendidikan tinggi (SDM) semakin meningkat. Namun tentang kesiapan SDM generasi muda Papua bukan sekedar berapa yang lulus, berapa jumlah sarjana, melainkan apakah mereka mampu, berkarakter, terserap kerja, dan berdaya di Tanah sendiri. Dalam hal ini, Papua masih dalam transisi – jumlah naik, tetapi kualitas dan penyerapan masih tertinggal. Hal ini terkonfirmasi dari realitas di lapangan masih terjadi gelombang demonstrasi oleh kelompok PENCAKER di Papua Barat Daya, Papua Barat dan Papua Induk pada dua tahun terakhir (2025 – 2026).

Sisi Positif – Pergerakkan Mendorong Kesadaran Sumber Daya Manusia
Melihat dari apa yang digerkkan kelompok AMP dalam konteks ini adalah bentuk gerakan politik – kritis terhadap ketimpangan kebijakan pemerintah/negara. Ataupun bisa dibilang bahwa mereka menyuarakan perihal yang semestinya menjadi hak – hak dasar Orang Asli Papua yang juga telah tercantum jelas sebagai amanat UU No. 2 Tahun 2021. Mereka menyuarakan protes jelas dan tegas langsung pada akar masalah yang selama ini tengah dialami oleh kelompok kolektif pemuda Papua lainnya sebagai kelompok kanan yang juga menjalankan roda organisasinya. AMP tegas menolak pembangunan infrastruktur tanpa partisipasi SDM lokal Papua yang berimbang, sama halnya dengan eksploitasi. Ini memaksa negara untuk serius memperbaiki investasi pendidikan untuk SDM OAP, bukan sekedar bangun jalan dan jembatan (antroposentrisme).

AMP membangun SDM politik – kritis, dengan mahasiswa yang terlibat pergerakkan akan melatih kepemimpinan, orasi, analisis kebijakan dan jaringan. Ini adalah modal SDM yang tidak diajarkan di kelas. Mereka kuat menonjolkan politik identitas, bahwa SDM Papua bukan sekedar terdidik gaya luar, tetapi harus cerdas secara intelektual sekaligus berakar pada budaya dan martabat sendiri. Tanpa suara kritis seperti AMP, krisis pendidikan di daerah konflik, pengungsian, dan diskriminasi (rasisme) bisa tertutup narasi pembangunan semata. Pergerakkan ini membuka ruang kebenaran tentang apa yang sebenarnya menghambat SDM Papua.

Rekomendasi Pemikiran
Apa yang digerakkan AMP bisa disimpulkan sebagai organisasi pendobrak, mendobrak sistem kebijakan pemerintah yang belum relevan dengan harapan rakyat (Papua) sesuai amanat konstitusi (UUD 1945 dan UU No. 2 Tahun 2021. Sementara gerakkan kelompok kolektif pemuda Papua lainnya di luar AMP, bisa disimpulkan sebagai kelompok organisasi berkarya karena mengerjakan pembinaan pendidikan formal, mengupayakan jalur beasiswa, pelatihan keterampilan vokasi, dan pemberdayaan generasi muda pada ruang kreativitas (ekonomi kreatif). Dari akurasi eksistensi gerakkan politik – kritis/substantif oleh AMP (kelompok kiri) serta eksistensi karya pembinaan dan program kreativitas generasi muda oleh kelompok kolektif muda Papua lainnya Non AMP (kelompok kanan), ini merupakan modal investasi besar yang kuat untuk mendorong Papua yang sangat maju pada waktu mendatang. Jika bisa dilihat dari kaca mata akademisi dan budayawan, bila kedua potensi gerakkan eksistensi generasi muda Papua ini bisa dirangkul, dibina dengan baik, mereka akan mampu menjadi calon pemimpin birokrasi, politik, dan tokoh masyarakat yang berkelas di masa depan.