Jakarta – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bina Insani (BEM BIU) menyampaikan pandangannya mengenai dinamika gerakan mahasiswa di Indonesia yang dinilai menghadapi tantangan serius dalam menjaga arah perjuangan. Menurut BEM BIU, sebagian gerakan mahasiswa saat ini menunjukkan kecenderungan lebih mengedepankan mobilisasi massa dibandingkan penguatan kajian akademik, sehingga berisiko mengaburkan identitas mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat.
Dalam keterangannya, BEM BIU menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan, kontrol sosial, dan kekuatan moral dalam kehidupan demokrasi. Oleh sebab itu, setiap bentuk kritik terhadap kebijakan publik semestinya dibangun di atas landasan argumentasi yang kuat, didukung data yang dapat dipertanggungjawabkan, serta diarahkan untuk menghasilkan solusi yang konstruktif bagi kepentingan masyarakat luas.
BEM BIU berpandangan bahwa munculnya aksi-aksi yang lebih menonjolkan konfrontasi daripada substansi menjadi salah satu tantangan yang perlu dievaluasi bersama. Menurut organisasi tersebut, ketika demonstrasi lebih dikenal karena eskalasi konflik dibandingkan kualitas gagasan yang diperjuangkan, maka kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa dapat ikut tergerus. Dalam situasi seperti itu, pesan utama yang ingin disampaikan mahasiswa berpotensi tenggelam oleh sorotan terhadap dinamika aksi di lapangan.
Selain itu, BEM BIU mengingatkan pentingnya menjaga independensi organisasi mahasiswa dari berbagai bentuk kepentingan politik praktis. Menurut mereka, gerakan mahasiswa akan kehilangan legitimasi moral apabila dipersepsikan lebih mewakili kepentingan kelompok tertentu dibandingkan aspirasi masyarakat. Oleh karena itu, setiap sikap organisasi harus lahir dari proses kajian, musyawarah, serta kepentingan akademik yang objektif.
Organisasi tersebut juga menilai bahwa mahasiswa sebagai kaum terpelajar memiliki tanggung jawab untuk mengedepankan budaya dialog, penelitian, dan diskusi ilmiah dalam menyikapi persoalan bangsa. Demonstrasi merupakan salah satu instrumen yang sah dalam demokrasi, namun bukan satu-satunya sarana untuk memperjuangkan perubahan. Penyampaian rekomendasi kebijakan, forum ilmiah, advokasi berbasis riset, dan dialog dengan pemangku kepentingan dinilai memiliki peran yang sama pentingnya dalam mendorong perbaikan kebijakan publik.
Presiden Mahasiswa (Ketua BEM) Universitas Bina Insani, *Trio Syah Putra Lase*, mengatakan bahwa mahasiswa perlu kembali menguatkan identitasnya sebagai komunitas akademik yang menjunjung tinggi etika, rasionalitas, dan tanggung jawab intelektual dalam setiap gerakan yang dilakukan.
> “Gerakan mahasiswa seharusnya menjadi ruang lahirnya gagasan, bukan sekadar ruang pelampiasan emosi. Kritik terhadap kebijakan publik adalah bagian penting dari demokrasi, tetapi harus disampaikan secara bertanggung jawab, berbasis kajian, dan tidak mudah dipengaruhi kepentingan politik praktis. Mahasiswa akan lebih dihormati ketika mampu menawarkan solusi yang argumentatif daripada hanya menghadirkan kegaduhan yang mengaburkan substansi perjuangan,” ujar Trio Syah Putra Lase.
Lebih lanjut, Trio menegaskan bahwa mahasiswa perlu memperkuat tradisi intelektual melalui budaya membaca, meneliti, berdiskusi, dan menyusun rekomendasi kebijakan. Menurutnya, kualitas gerakan mahasiswa tidak semata diukur dari besarnya mobilisasi massa, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan gagasan yang dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian persoalan publik. Ia juga mengajak organisasi mahasiswa untuk memperkuat proses kaderisasi agar melahirkan pemimpin muda yang kritis, independen, dan memiliki integritas.
BEM BIU turut mengajak seluruh organisasi mahasiswa di Indonesia untuk menjaga ruang demokrasi tetap sehat melalui penyampaian aspirasi yang damai, tertib, dan menghormati hukum. Organisasi tersebut berpandangan bahwa tindakan yang mengarah pada kekerasan, perusakan fasilitas umum, ataupun perilaku yang menimbulkan keresahan masyarakat tidak mencerminkan nilai-nilai akademik yang melekat pada identitas mahasiswa sebagai kaum terpelajar.
Sebagai penutup, BEM Universitas Bina Insani menegaskan bahwa gerakan mahasiswa akan tetap relevan apabila mampu menjaga independensi, mengedepankan nalar kritis, serta menjadikan kepentingan rakyat sebagai orientasi utama perjuangan. Menurut BEM BIU, tantangan bangsa ke depan membutuhkan mahasiswa yang tidak hanya berani menyampaikan kritik, tetapi juga mampu membangun dialog, menghadirkan solusi, dan memperkuat demokrasi melalui kontribusi intelektual yang bertanggung jawab.
